Untitled

PERBEDAAN COACHING, TRAINING, DAN MENTORING

PERBEDAAN COACHING, TRAINING, DAN MENTORING.  istilah yang saya sebutkan di atas n m. Bahkan mungkin Anda juga sudah menggunakan atau melakukan prosesnya, hanya saja… “Apa sebenarnya perbedaan nyata dari aktivitas tersebut?”

Untitled

istilah tesebut mengacu pada orang yang melakukan-nya. Misal saja coach adalah orang yang melakukan aktivitas coaching.

Contoh lain untuk definisi di atas misalnya definisi public speaker adalah orang yang melakukan public speaking. Public speaker adalah orangnya (kata benda) sedang public speaking adalah aktivitasnya (kata kerja).

Sekarang mari kita belajar perbedaan masing-masing aktivitas tersebut. Saya akan mulai dulu dengan coaching.

Coaching

Coaching adalah proses ketika Anda dibantu oleh seorang coach untuk mencapai sebuah tujuan / goal yang Anda tentukan. Di sini kata kuncinya adalah mencapai goal. Seorang coach juga akan berfungsi sebagai partner akuntabilitas untuk memastikan Anda menjalankan hal – hal yang akan Anda lakukan.

Seorang coach yang murni melaksanakan proses coaching hanya akan bertanya dan menggalisaja kepada klien / coachee nya. Dia bahkan sama sekali tidak memberikan saran atau masukan. Semua ide dan pemikiran berasal dari si klien.

Coach hanya membantu klien untuk berpikir, menimbulkan insight dan menstrukturkan pemikiran mereka. Plus setelah itu dia akan memastikan si klien melakukan apa yang telah dia pikirkan dan katakan.

Haha.. masih bingung dan tidak ada gambaran? Saya beri contoh ya… misalnya saja saya memanggil seorang coach untuk meningkatkan omzet bisnis saya, kira-kira ini dia percakapannya.

Coach: Pak David, kira-kira apa yang Bapak inginkan dalam bisnis Anda?

(ini pertanyaan untuk mengetahui / menentukan tujuan klien)

Saya: Ini Pak Coach.. saya ingin bisnis rombong bakso saya ini sebulannya bisa dapat omzet minimal Rp 100 juta

Coach: Oohh… begitu ya Pak. Mengapa tujuan tersebut penting untuk Bapak?

(pertanyaan untuk memastikan tujuan yang ditetapkan tepat & bermakna)

Saya: Kalau dapat omzet segitu saya tidak perlu kuatir lagi tentang pengeluaran rutin Pak, selain itu juga masih bisa menabung

Coach: Okay.. kalau begitu kira-kira untuk mencapai omzet segitu, hal-hal apa saja yang harus dilakukan?

(pertanyaan untuk menggali strategi untuk mencapai tujuan)

Saya: Hmm… kalau omzet segitu rasanya musti buka cabang 2 lagi deh. Promosi juga musti lebih gencar dan hmm… mungkin perlu ada tambahan menu.

Setelah itu coach akan menanyakan pertanyaan yang lebih detil lagi tentang bagaimana masing-masing strategi itu akan dijalankan, memecahnya dalam langkah-langkah yang bisa dilakukan. Setelah itu penutupan sesi coaching kurang lebih akan seperti ini.

Coach: Okay Pak David.. jadi sudah kita sepakati bahwa selama 2 minggu ini Bapak akan survey lokasi dulu untuk cabang baru dan cek biaya untuk bikin dan sebar brosur di sekitar kompleks. Dua minggu lagi kita ketemu, Pak David silahkan disiapkan hasilnya.

Nah, kurang lebih itulah gambaran proses coaching. Bisa Anda cermati bahwa si coach hanya bertanya dan menggali, dia sama sekali tidak memberi saran dan masukan apa seharusnya goal saya atau bagaimana cara mencapainya. Setelah itu si coach berfungsi sebagai partner akuntabilitas untuk memastikan klien melakukan apa yang dia katakan.

Saya harap contoh singkat tersebut bisa memberikan gambaran tentang seperti apa sebenarnya proses coaching. Dalam coaching yang sesungguhnya tentunya pertanyaannya akan lebih kompleks. Ada juga cara-cara dan teknik bertanya, bagaimana cara membangun rapport dll.

Coaching adalah satu skill khusus juga yang perlu dipelajari (dan juga ada sertifikasinya). Setelah ini mari kita menuju ke aktivitas kedua yaitu mentoring.

Mentoring

Mentoring adalah proses berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seorang yang sudah berpengalaman (been there done that) kepada seseorang yang yang ingin belajar di bidang tersebut. Di sini kata kuncinya adalah berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Fokusnya lebih ke pengembangan diri dan karir, tidak harus ada tujuan spesifik yang ingin dicapai. Penekanan juga lebih ke relasi antara mentor dan mentee bukannya ke pencapaian tujuan.

Seorang mentor biasanya adalah seseorang yang memang sudah berpengalaman di bidangnya sehingga bisa menuntun, memberikan tips dan saran. Sehingga akhirnya bisa mempercepat proses belajar Anda dan menghindari Anda membuat kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi.

Sebagai contoh misalnya saya ingin membuka usaha bakso rombong akan tetapi sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang ini. Lalu saya ingat saudara jauh saya Pak Bambang yang adalah seorang pengusaha bakso rombong sukses yang memiliki cabang di mana-mana.

Nah, saya bisa menjadikan Pak Bambang mentor saya dalam bisnis rombong bakso. Dia bisa berbagi kiat – kiat dan tips sukses berbisnis bakso rombong. Dengan tips-tips yang dia berikan maka saya bisa terhindar dari kesalahan yang biasa dilakukan orang dan peluang sukses saya di bisnis bakso rombong juga akan semakin besar.

Training

Training adalah proses transfer skill / kemampuan kepada para peserta training. Di sini kata kuncinya adalah proses penguasaan skill / kemampuan.

Fokus dalam sebuah training (sering juga disebut workshop) adalah peserta melakukan praktek. Sebuah skill baru bisa dikusai jika dipraktekkan dan diulang – ulang untuk semakin mengasah kemampuan peserta.

Seorang trainer yang baik akan mampu memecah sebuah aktifitas yang kompleks menjadi langkah – langkah yang mudah dipahami dan diterapkan. Berikut saya berikan contoh ketika saya belajar yoga

Misal saja Anda latihan yoga dan diminta oleh trainer Anda “Hayo sekarang kita lakukan pose ini!”

 

Jika sebelumnya belum pernah, saya yakin Anda langsung pucat pasi. Setelah itu mungkin ada 2 kemungkinan yang terjadi yaitu (1) Anda menyerah belajar headstand atau (2) Anda mencoba dan kesleo, salah urat

Pose tersebut adalah pose yang kompleks dan sulit untuk dilakukan. Anda tidak bisa hanya serta merta disuruh untuk langsung melakukan pose tersebut.

Trainer yang baik akan bisa memecah hal kompleks (dan sulit) ini menjadi langkah – langkah yang lebih membumi, misal saja memberikan langkah-langkah berikut ini:

 

Plus dengan dibimbing dan diberi masukan ketika ada yang salah atau kurang tepat maka niscaya akhirnya Anda bisa melakukannya (haha.. semoga   ).

Nah, jadi itu adalah esensi training yang baik: mampu memecah aktivitas yang komples (yang sebelumnya tidak terpikir bisa dilakukan oleh peserta training) menjadi langkah-langkah simpel yang bisa dipraktekkan.

Hal yang sama saya lakukan untuk training yang saya lakukan. Misal saja dalam proses pembelajaran skill membuat slide. Instruksi yang diberikan tidak cukup hanya “Hayoo.. sekarang buat slide yang seperti ini!”

 

Kalau instruksinya seperti itu pasti pesertanya hanya terbengong-bengong dan bingung   Yang harus dilakukan adalah dibuat langkah-langkah yang mudah.

Misalnya saja langkah pertama “Yuk.. kita cari gambarnya dulu” Berikut adalah beberapa sumber gambar yang bisa digunakan. Setelah itu peserta akan praktek dan hasilnya diberikan feedback dan masukan. Seringkali proses pemberian feedback dan masukan inilah yang berharga karena peserta akhirnya mengetahui kesalahan mereka dan cara memperbaikinya.

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *