NLP dan Teori Tipologi Kepribadian

Perbedaan NLP dan Teori Tipologi Kepribadian

Perbedaan NLP dan Teori Tipologi Kepribadian
Perbedaan NLP dan Teori Tipologi Kepribadian

Urusan ini bisa beraneka ragam tujuan dan bentuk interaksinya. Agar urusan dengan manusia lain ini menjadi efektif, maka kita perlu cara untuk memahami prilaku masing-masing dari mereka.

Namun rasanya agak mustahil untuk kita bisa selalu mengenali dan memahami prilaku setiap orang dari ribuan yang berurusan dengan kita. Sehingga kita memerlukan suatu cara untuk mempermudah pemahaman ini dan akhirnya kita membuat klasifikasi berdasarkan sifat-sifat tertentu dari manusia menurut kita. Apakah klasifikasi ciptaan dan rekaan kita itu cukup efektif? Mungkin iya, mungkin pula tidak.

Alhasil kita perlu pertolongan orang yang lebih ahli dalam mengklasifikasi manusia yaitu para ahli jiwa.

Di dunia ini, para ahli jiwa senang membuat klasifikasi manusia yang disebut salah satunya adalah kepribadian atau personality. Berbagai macam teori kepribadian ada di dunia ini, dibuat dan diciptakan oleh ahli jiwa menurut pemikiran dan pengalaman mereka mengenai “bagaimana seharusnya” mengelompokkan manusia berdasarkan sifat-sifat tertentu.

Akhirnya terlahirlah alat – alat tes untuk mengklasifikasikan manusia seperti : Enneagram, Meyers Briggs (MBTI), DISC dan lain-lain. Sejumlah tes kepribadian ini dibuat menggunakan analisa kuantitatif dengan jumlah responden yang sangat banyak, sehingga derajad kesesuaiannya lebih tinggi dari alat tes lainnya.

Para praktisi ilmu jiwa lantas tinggal menggunakan alat tes yang diciptakan oleh para ahli ini untuk mengklasifikasi, memprediksi dan membuat prognosis mengenai perilaku orang lain. Walhasil, tes kepribdian semacam ini menjadi berguna di dunia kerja untuk meramalkan calon karyawan dan proses penjenjangan karier, dan juga di dunia pendidikan, untuk mengklasifikasikan minat, bakat, kemampuan dan lain-lainnya.

Melabel dan Bersembunyi di balik Kepribadian

Salah satu efek samping dari konsep tipologi kepribadian adalah saat orang-orang awam ikut-ikutan mempelajarinya, dan lantas menganggap sebagai suatu kebenaran mengenai jenis-jenis manusia. Mereka kemudian memerangkap orang lain dengan label dan menyembunyikan dirinya sendiri dibalik kepribadian yang diyakininya.

Saat mereka memperlakukan tipologi kepribadian ini sebagai kebenaran hakiki, maka kemudian mereka memperlakukan orang lain seolah menjadi suatu label yang permanen dan tidak bisa diubah.  Ingat, memberikan label hanya akan membangun limitasi (pembatasan), membatasi kita dalam memandang luas ruang lingkup jati diri dan potensi orang lain.

Memberikan label kepada orang lain berpotensi menganggap manusia tidak berubah, dan membuat prilaku dan pikiran kita selalu mencap mereka selalu seperti itu. Alhasil lahirlah julukan : si pemarah, si pelupa, si penghasut, dan lainnya. Seolah mereka menelan pil pahit atas takdir mereka yang tidak bisa berubah keluar dari kotak label itu.

Bukankah jauh lebih bijak, jika kita menggunakan generalisasi dengan pernuh respek, bukan sebagai label. Gunakan generalisasi sebagai cara kita untuk merespek model dunia orang lain, sehingga kita bisa melakukan proses rapport building yang efektif dan membantunya untuk mendapatkan apa yang terbaik baginya.

Dengan menghindarkan diri dari pelabelan ini, maka konsep tipologi kepribadian menjadi bermanfaat seperti tujuan semula : sebagai pedoman klasifikasi untuk melakuan diagnosis prilaku maupun ketrampilan dan juga alat untuk kebutuhan prediksi / prognosis.

NLP dan Kepribadian

Dalam perspektif NLP, konsep klasifikasi atau tipologi kepribadian adalah tidak lebih dari suatu generalisasi mengenai sifat manusia. Sebab jumlah kepribadian di dunia ini tentunya tidak cuman 8, 16 ataupun 32, namun jumlah sebenarnya adalah sebanyak manusia itu sendiri. Namun, bagaimanapun juga generalisasi adalah alat yang penting untuk membantu kita melakukan suatu klasifikasi.

NLP tidak menggunakan konsep kepribadian dalam tujuannya untuk melakukan klasifikasi dan prediksi mengenai prilaku dan watak orang lain. NLP menggunakan cara yang berbeda, yang memudahkan kita melepaskan diri dari konsep labeling ini.

NLP memilah prilaku manusia dalam tataran yang lebih kecil-kecil lagi seperti Representational System, Metaprogram, Belief, dan lain-lain. Kemudian praktisi NLP diajarkan untuk melakukan proses pengamatan pada diri orang lain menggunakan kombinasi berbagai hal kecil tadi, tanpa harus memberikan label pada mereka.

Lebih jauh lagi, praktisi NLP ditanamkan untuk memperlakukan hal-hal tersebut sebagai kontekstual : artinya bisa berbeda kecenderungan di konteks yang berbeda. Misal : seseorang bisa saja memiliki metaprogram internal jika di konteks pembelian, namun di konteks agama ia memiliki metaprogram eksternal.

Selain kontekstual, praktisi NLP percaya bahwa karena manusia adalah mahluk yang selalu mendambakan perubahan, maka berbagai konsep klasifikasi inipun bisa berubah mengikuti waktu. Misal, seseorang yang metaprogramnya internal dalam pembelian, bisa berubah menjadi eksternal setelah ia menikah dengan pasangan yang sangat dicintainya.

Agar makin mudah membedakan kedua perbedaan pandangan antara umumnya ahli jiwa dan praktisi NLP, maka bisa diumpamakan adalah sebagai berikut :

  • Ahli jiwa akan bekerja dengan konsep tipologi kepribadian berpikir seperti menghapalkan perbedaan jenis-jenis masakan. Misal : Mie goreng, mie rebus, cap cay, kolo kee, kwee tiauw, dll. Mereka memberi nama pada jenis-jenis masakan ini.
  • Praktisi NLP diajarkan untuk bekerja pada level meracik bumbu dan bahan masakan tanpa harus memberi nama pada jenis masakannya. Jadi efeknya jadi lebih memahami kemungkinan adanya ribuan kombinasi akhir tanpa harus cemas pada efek labeling.

Jadi esensi dasar dari kedua pendekatan ini sebenarnya sama yaitu ingin memiliki alat atau tool yang dapat dipakai secara efektif dalam mendiagnosis maupun prognosis dari prilaku orang lain. Silahkan Anda pilih sendiri, mana yang ingin dipakai.

Belakangan ini ada orang – orang di dunia NLP yang  mulai ketularan memperlakukan berbagai hal di NLP seolah sebagai tipologi /jenis kepribadian. Ini ditandai dari kesukaan mereka mengklasifikasikan manusia dalam jenis-jenis tertentu, seperti : Saya orang Visual, dia itu orang Kinestetik. Dia jenisnya metaprogram Eksternal, saya jenis internal.

Hal seperti ini adalah keliru dan perlu dihindarkan karena menjebak kita pada konsep labeling dan mengkhianati esensi dari manusia sebagai mahluk yang selalu menginginkan perubahan dalam kehidupan dan terus bertumbuh.

 

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *