8 Kepercayaan Dasar NLP

Kepercayaan Dasar NLP

Kepercayaan Dasar NLP
Kepercayaan Dasar NLP

Meskipun para pakar kadang berbeda dalam menentukan jumlah prinsipdasar, namun beberapa prinsip berikut ini dapat mewakilinya. Prinsip ini sudah saya “dialogkan” dengan beberapa literatur sehingga diharapkan dapat mempertajam pemahaman NLP pada umumnya.

  1. Map is not territory
Map is not territory
Map is not territory

Asumsi ini paling sering digunakan oleh para pakar dan praktisi NLP. Bahwa peta bukanlah wilayah. Istilah ini gunakan oleh ahli matematika berkebangsaan Polandia Alfred Corzibski untuk menekan bahwa persepsi bukanlah wilayah realitas itu sendiri. Bahwa realitas eksternal (RE) berdebda dengan realitas internal (RI).

Perbedaan ini tidak saja dipicu oleh keterbatasan alat sensorik kita yakni panca indera, namun dipicu oleh pebedaan nilai-nilai subjektif terhadap suatu objek (RE). Suatu objek begitu masuk melalui panca indera diolah oleh pikiran dengan acuan nilai-nilai, pengalaman, norma dan keyakinan subjektif. Contoh, realitasnya (RE) adalah kata “bisnis”. Namun kita berbeda dalam mempersepsikannya. Kita berdeda dalam memahaminya. Ada yang memahaminya sebagai kegiatan yang penuh resiko dan bikin pusing tujuh keliling sehingga menghindarinya; ada pula yang memahaminya sebagai kegiatan yang menantang dan bergairah sehingga mereka menekuninya.

Hampir semua yang bersemayam dalam pikiran kita adalah persepsi, bukan realitas. Apa yang kita percayai dan bahkan kita yakini adalah bukan realitas itu sendiri. Hanya sebuah peta (wilayah) bukan kondisi di lapangan (territory). Manusia, sesungguhnya, bereaksi terhadap persepsinya, bukan terhadap realitasnya. Kalau Anda sekarang kebetulan kurang menyukai dunia bisnis misalnya, itu karena persepsi terhadap binis yang penuh resiko dan memusingkan.

Kalau semua yang kita yakini, kita persepsikan adalah bukan realitas, kabar baiknya adalah semua yang kita yakini khususnya keyakinan yang keliru masih dapat direkayasa ulang (re-engineering). Pikiran-pikiran negatif (saya sebut sebagai file negalif) seperti takut gagal, pemalu, pemalas, mental pecundang, suka membenci orang lain dan sebagainya masih dapat diperbaiki. Dan NLP memiliki tehnik-tehniknya.

  1. Hormati cara orang lain membentuk dunianya
Hormati cara orang lain membentuk dunianya
Hormati cara orang lain membentuk dunianya

Kalau kita berkeliling dunia, hampir dipastikan tidak ada orang yang secara fisik itu sama persis. Orang kembar sekali pun tetap ada perbedaannya. Begi pun secara perilaku, tak satu pasang pun manusia yang sama persis karakter dan perilakunya. Tetap ada perbedaan-perbedaan sebagai identitasnya. Perbedaan-perbedaan itu sebagai hasil persepsi dirinya terhadap lingkungannya. Perbedaan-perbedaan itu karena adanya pemaknaan subjektif terhadap dunia sekitarnya. Ini sama persis dengan teori sosiologinya Max Weber bahwa manusia itu sebagai subjek yang bebas menafsirkan makna terhadap lingkungannya.

Karena perbedaan-perbedaan itulah manusia cenderung membentuk “dunianya” sendiri. Hampir setiap orang “mengimani”dunianya. Kita merasa senang dan bahkan bangga dengan dunia kita masing-masing. Perbedaan dunia ini yang bermula dari perbedaan persepsi sering kali membentuk sebuuah “ideologi” yang rawan munculnya konflik. Intensitas emosional, keyakinan emosional dan rasional, seringkali membawa “kesombongan intelektual” bahwa dirinya/kelompoknyalah yang paling benar.

Kegagalan kita memahami dunia orang lain, bukan saja telah mengingkari sebuah krodrat manusiawi yakni perbedaan (tak seorang pun sama di muka bumi ini dan tak seorang pun sama karakter/perilakunya), tetapi juga gagal membangun interaksi sosialnya. Memahami dunia orang lain, memahami pikiran orang lain secara simpatik merupakan kunci keberhasilan interaksi sosial.

Dimana pun Anda berada, dari kehidupan rumah tangga, rukun tangga (RT), hingga percaturan global sekali pun, sikap simpatik merupakan kuncinya. Kehidupan organisasi (perusahaan) akan menuai kegagalan dalam berkomunikasi manakala antar anggota dan antar level manajerial tanpa mengedepankan sikap simpatik dalamberinteraksi. Pelanggan juga akan kabur tanpa pelayanan simpatik. Kata Covey, pahami dulu orang lain secara simpatik, baru mereka memahami kita. Pahami dulu dunia orang lain, baru mereka paham akan dunia kita.

  1. Fleksibelitas
Fleksibelitas
Fleksibelitas

Memahami dunia orang lain akan membawa kualitas interaksi sosial (organisasional). Apabila Anda pernah merasa gagal dalam bernegosiasi dan dalam mempengaruhi orang lain itu mungkin kesalahan Anda dalam bersikap. Seringkali Anda –dan saya—merasa jengkel karena mereka keras kepala, itu mugkin karena kita yang kurang memahami dunianya. Kita mungkin terlalu berorientasi pada diri kita sendiri.

Cobalah kita rubah sikap dan cara kita dalam berkomunikasi. Bukanlah mereka yang “tolol” sehingga tidak mau memahami diri kita, melainkan cara kitalah yang harus kita rubah terlebih dahulu. Bersikukuh pada pola pikir kita hanya akan menyebabkan gagalnya interaksi.Kita harus mengontrol diri kita terlebih dahulu sebelum mengontrol orang lain.

Fleksibelitas itu kuncinya. Fleksibelitas bisa diartikan banyak cara, atau selalu proaktif untuk menemukan berbagai cara. Kebalikannya adalah satu cara saja. Persis sama dengan seekor lalat terperangkap dalam kamar yang mau keluar melalui kaca kamar. Berulang-ulang lalat itu mencoba keluar pada titik kaca yang sama. Akhirnya lalat itu kelelahan mati. Pada hal, bila ia sedkit saja “kreatif” mencari celah lain, ia bisa keluar dengan selamat. Bila saja lalat itu fleksibel, nasibnya menjadi lain.

Seseorang yang fleksibel, tidak mungkin mau tersesat. Bila ia sudah tahu bahwa route perjalannya akan sesat, segera mencari jalan alternatif atau bahkan memutar arah. Bila jalan hidupnya ternyata salah arah, segera mencari jalan alternatif. Ini bukan berarti gagal, tetapi lebih gagal lagi bila tetap diteruskan. Kapasitas seseorang untuk merubah sikap, tindakan demi keberhasilan itulah fleksibelitas.

  1. Selalu ada maksud baik dari setiap tindakan
Selalu ada maksud baik dari setiap tindakan
Selalu ada maksud baik dari setiap tindakan

Sebelum saya menjelaskan bahwa setiap tindakan seseorang memiliki maksud baik, saya akan menjelaskan konsep parts (bagian-bagian) dalam diri kita. Bahwa dalam diri kita memiliki parts yang banyak sekali. Setiap part ini memiliki fungsi dan perannya masing-masing dan saling bekomunikasi.

Parts adalah bagian-bagian dalam diri seseorang yang membentuk diri seorang menjadi khas. Dalam diri seseorang ada bagian-bagian diantaranya: bagian yang efisien, bagian yang hemat, bagian yang suka rekreasi, bagian yang suka mengasuh anak, bagian yang berdisiplin, bagian yang ingin membaca, bagian ingin menulis dan segainya.

Semuanya itu membentuk keseluruhan (system) dalam diri seseorang. Disebut sistem antar bagian saling berkomunikasi dan saling bereran, bahkan saling mengerti. Contoh salah satu part saya, suka menulis, sering berkomunikasi dan berkompromi dengan part saya, mengasuh anak. Keduanya sering berkomunikasi dan berkompromi soal waktu, tidak mungkin past menulis saya melupakan part mengasuh/mengajar anak-anak saya.

Parts bekembang melalui emosi dan peran. Intensitas emosional saya terhadap part menulis menjadikan saya memiliki peran menulis. Apabila intensitas emosional ini menjadikan saya mengalokasikan waktu lebih banyak, maka part menulis saya menjadi lebih berkembang dan berperan dalam kehidupan saya.

Setiap part, membutuhkan waktu dan tempat dalam mengaktualisasikannya. Artinya setiap part membutuhkan alokasi waktu tertentu dan kapan, pada saat apa atau kapan sebuah part dapat mengekspresikannya. Part menulis saya membutuhkan waktu yang lebih banyak dari pada part menulis, dan saat malam hari misalnya. Saya tidak mungkin menjalankan dua part yang berbeda dalam waktu yang sama. Saya tidak bisa menulis sambil mengajari anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Setiap part yang diberi alokasi waktu, dan diberi intensitas emosional akan menghasilkan sebuah tindakan atau peran. Dengan kata lain, sebuah tindakan merupakan ekspresi dari sebuah part. Namun, perlu dicatat bahwa adakalanya antara tujuan dari part itu berbeda dengan ekspresinya. Tidak selalu tujuan positif diekpresikan dengan tindakan positif. Contoh, Anda menjewer telinga anak agar mau belajar/mengerjakan PR. Tujuannya positif yakni mendisiplinkan anak namun diekspresikan secara negatif (menjewer).

Itulah yang dimaksud dengan asumsi bahwa selalu ada maksud baik dari setiap tindakan. Benarkah? Bagaimana mungkin sebuah tindakan negative seperti merokok (salah satu penyebab kanker), minum alkohol memiliki tujuan positif? Tentu saja ada tujuan positifnya yakni paling tidak –menurut versi mereka—tindakannya membuat mereka merasa lebih tenang.

NLP sangat peduli dengan tindakan-tindakan “keliru” seperti itu. Apakah untuk membuat diri seorang mrasa tenang hanya dengan cara minum alkohol? Apakah tidak ada cara lain yang tidak merusak? Apakah untuk mendisiplinkan anak harus dengan cara menjewer? Bukankah masih tersedia cara-cara alternatif yang lebih edukatif?

Banyak orang terjebak dalam tindakan-tindakan terselubung, yakni maksudnya baik, tujuannya positif, namun mereka terjebak dalam tindakan yang negataif. Mereka sesungguhnya inginnya baik, inginnya tidak menium akkohol, tidak harus menjewer, namun mereka seringkali tidak berdaya untuk merubahnya. Nah, NLP mencoba meluruskannya sehingga tujuan positif akan lebih baik diekspresikan dengan cara (tindakan) positif pula. Sebab, tindakan yang salah dan terus dipertahankan, dampak negatifnya baik pada diri sendiri maupun pada orang lain sangat negatif dan bahkan dapat menghancurkan kehidupannya.

Kabar baiknya dari asumsi bahwa “selalu ada maksud baik dari setiap tindakan” adalah

pertama, selalu ada jalan keluar bila terjadi konflik dalam diri. Konflik ini sesungguh terjadi tujuan dan cara (tindakannya) tidak cocok. Bila yang bersangkutan kemudian ditunjukkan cara-cara kreatif-positif dan dapat menerimanya, maka tidak ada konflik lagi. Kedua, akan memudahkan Anda memahami orang lain sebagai titik temu komunikasi efektif. Contoh, seseorang yang mencuri, nalar umum kita menolaknya. Tetapi bila niat mencurinya adalah demi anak-anaknya yang beberapa hari tidak makan nasi, kita akan sedikit memahaminya. Fokus pada niat, atau fotkus pada tujuan baiknya, akan membantu pemahaman kita terhadap perilaku orang lain.

  1. Orang-orang melakukan hal-hal terbaik sebatas sumber-sumber yang mereka miliki
Orang-orang melakukan hal-hal terbaik
Orang-orang melakukan hal-hal terbaik

Coba, sesekali mengingat dan melihat kembali prestasi-prestasi kita di masa silam. Alangkah lucunya diri kita masing-masing bila melihat lukisan dan tulisan cakar ayam kita saat-saat masih kelas satu hingga kelas tiga Sekolah Dasar. Alangkah jelek prestasi kita saat itu. Tetapi itulah karya terbaik kita saat itu.

Seiring dengan perjalanan hidup kita, apa yang kita kerjakan semakin baik bila dibandingkan masa lalu. Artinya, seiring dengan belajar melalui pengalaman-pengalaman, diri kita tumbuh menjadi lebih berkualitas dari pada sebelumya. Yang jelas hampir setiap orang selalu berusaha yang terbaik menurut sumber-sumber yang dimiliki saat itu dan kondisi saat itu.

Oleh karenanya, alangkah naifnya menyalahkan orang lain apabila kinerja mereka belum sesuai dengan keinginan Anda. Pahami bahwa mereka telah berusaha, telah melakukan yang terbaik menurut kemampuannya saat itu. Bukan karena malas, kurang disiplin, melainkan mereka telah melakukan sebatas kemampuannya saat itu. Mungkin mereka bisa lebih bagus prestasinya, namun mereka mungkin belum tahu caranya.

Dari pada fokus pada kesalahan dan kekurangannya, lebih bak bantu mereka agar mereka bisa lebih memberdayakan diri. Setiap orang pasti bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Tugas kita adalah memberdayakannya sesuai dengan sumber daya uniqnya. Hampir semua alat yang dikembangkan NLP dimaksudkan untuk membantu mereka agar lebih berdayaguna.

  1. Makna Komunikasi adalah Respon yang Anda Peroleh
Makna Komunikasi adalah Respon yang Anda Peroleh
Makna Komunikasi adalah Respon yang Anda Peroleh

Bukan orang lain yang tampaknya tidak peduli dengan Anda tetapi Andalah yang harus mengatur berbagai trik komunikasi hingga mereka merespon baik pada Anda. Bukan mereka yang tidak paham dengan pesan Anda, tapi Andalah yang harus paham mereka sehingga mereka paham dengan pesan Anda.

Bila mereka masih belum paham dengan pesan Anda, janganlah kemudian patah hati untuk memvonis mereka dan menutup komunikasi, melainkan carilah cara-cara yang tepat sehingga mereka mau meresponnya dengan baik. Menyesuaikan dengan keinginan mereka, menyesuaikan dengankondisi pikiran mereka merupakan pintu pembuka komunikasi. Contohnya, bila Anda berkomunikasi dengan mereka yang sedang sedih, coba tarik nafas yang dalam, dan coba ulangi dengan tempo lambat, kemungkinan besar mereka akan meresponnya dengan baik.

Teknik komunikasi yang baik pada dasarnya adalah, menemukan sejumlah trik, baik melalui komunikasi verbal dan verbal. Kepiawaian Anda dalam merubah intonasi, tempo, vibrasi dan pola nafas merupakan aspek penting dalam komunikasi. Makna komunikasi, dengan demikian, adalah bagaimana Anda mengolah setiap respon yang Anda peroleh.

Setiap respon atau uman balik dari mereka adalah input penting untuk merubah strategi baru. Setiap respon yang Anda peroleh dari mereka adalah input baru untuk memperbaiki kualitas pesan yang akan Anda kemas kemudian hingga mereka mau menerima pesan Anda. Respon Andalah yang akan menentukan keberhasilan berkomunikasi dengan pihak lain.

  1. Tidak Ada Gagal, Hanya Hasil yang Belum Sesuai Harapan
Tidak Ada Gagal
Tidak Ada Gagal

Pikiran akan bekerja sesuai dengan program yang terpasang di dalamnya. Pikiran ibarat komputer yang di dalamnya terdapat sejumlah sistem aplikasi yang siap dioperasikan. Bila pikiran Anda terpasang program “bahwa saya gagal”, semua sel syaraf pikiran (neuron) akan segera bekerja mencari-cari justfikasi bahwa diri Anda pantas gagal. Ingat, sistem kerja pikiran identik dengan sistem kerja internet. Begitu Anda search kata “nyamuk” dalam google misalnya, maka Anda memperoleh semua jawaban baik yang relevan atau kurang relevan tentang “nyamuk”. Begitu pula ketika Anda putuskan bahwa “Anda gagal”, maka sejumlah alasan akan menyertainya.

Sebaliknya bila Anda putuskan bahwa “Anda tidak gagal”, maka seluruh sel syaraf (neuron) mencari dan menggali semua informasi, semua suber daya yang memungkinkan yang Anda miliki untuk mendukung keputusan Anda itu. Bahkan pikiran akan meninggikan “antenanya” untuk memperluas jangkauannya terhadap setiap peluang dan sumber daya yang bisa mendukung keptusan Anda. Alam semesta pun akan mendukung keputusan positif Anda.

Bila neuron pikiran Anda sudah membuka diri, dan menemukan sejumlah sumber daya, pertanyaan selanjutnya adalah beranikah Anda menjalaninya? Titik inilah yang membedakan orang gagal dan orang sukses. Orang gagal hanya sampai pada tingkatan berpikir saja sementara orang sukses langsung menjalaninya. Sebab, bagi orang sukses, kesuksesaan bukan dengan cara memikirnya saja, tapi berani menjalaninya.

Tidak ada gagal sepanjang kita masih terus mengusahakannya. Langkah pertama yang gagal merupakan masukan bagi kita untuk menentukan langkah kedua. Dan langkah kedua bila masih belum berhasil merupakan pijakan langkah berikutnya. Kesanggupan kita untuk mau memperbaiki setiap langkah berdasarkan langkah sebelumnya merupakan cara ideal menuju keberhasilan. Tidak ada gagal, yang ada hanya langkah-langkah menuju keberhasilan.

  1. Setiap Pengalaman Memiliki Struktur Tersendiri
Setiap Pengalaman Memiliki Struktur Tersendiri
Setiap Pengalaman Memiliki Struktur Tersendiri

Apakah pengalaman itu? Pada dasarnya pengalaman adalah sebuah peristiwa yang di dalamnya terdapat sejumlah struktur yang saling berinteraksi sehingga membentuk sebuah kesan emosional. Pengalaman adalah juga sebuah kejadian yang tidak ubahnya seperti film. Sebagai layaknya sebuah filem didalamnya terdapat sejumlah peran/adegan dari para pelakunya, setting, alur, background berikut sejumlah nuasanya yang menggambarkan sebuah citra khusus/utuh.

Adegan berikut setting dan suasananya menghasilkan kesan khusus yang mendalam dan tercatat dalam benak kita masing-masing. Sebuah pengalaman –baik atau buruk—tidak lebihnya adalah sebuah adegan. Apabila sebuah adegan kita rubah strukturnya, peran atau settingnya, maka berubah pula adegan itu. Contoh bila sebuah adegan yang mstinya seseorang berperan serius, tetapi kemudian ia berperan cengengesan (tidak serius) maka adegan itu pasti berubah.

Demikian halnya sengan sebuah pengalaman Anda! Bila saja sebuah pengalaman –dimarahi atasan misalnya sehingga Anda murung saat itu—kita rubah strukturnya maka berubah pula kesannya. Bila Anda sedikit berani mencoba merubah strukturnya dengan cara membayangkan bahwa atasan anda adalah seperti seorang pelawak terlucu di dunia, maka rasa murung sedikit berubah!

Bila saja Anda sudah terbiasa merubah setiap pengalaman buruk yang tidak memberdayakan diri ke dalam pengalaman (artificial) baru lebih memberdayakan diri maka yang ada hanyalah rasa optimismisme. Merubah pengalaman lama ke pengalaman baru seperti kasus dimarahi atasan tersebut di atas, bukanlah hal yang sulit karena kita adalah stradara atas filem (pengalaman) kita sendiri. Merubah struktur/peran setiap filem (penglaman atau layar mental) meruapakan salah satu cara makna sebuah pengalaman.

 

SEMOGA BERMANFAAT!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *