14 Cara Mendidik Anak Yang Suka Berkata Kasar

14 Cara Mendidik Anak Yang Suka Berkata Kasar

berkata kasar
solusi Anak berkata kasar

Balita merupakan usia emas seorang anak. Pada usia ini, si kecil mudah menyerap informasi, karena kemampuan belajar dan daya tangkapnya yang masih sensitif.

Akibatnya, jika si kecil mendengar hal positif maupun negatif, dia akan mudah menirunya. Pada usia batita, anak mengalami perkembangan bahasa yang pesat, di mana dia mulai belajar bicara sampai ia fasih berkomunikasi. Dan semuanya tak lepas dari meniru ucapan orang lain, entah itu ucapan yang dipahami ataupun yang belum dipahami. Bahkan tak hanya meniru perkataan, meniru tingkah laku dan mengekspresikan perasaan pun si batita kerap orang lain. Maklum, perilaku ini merupakan proses belajar dalam perkembangan anak.

Namun, jika suatu hari si kecil meniru seseorang dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan orang lain yang mendengarnya tertawa, marah atau melarang dengan keras, maka dia akan mengulangi kembali. Pasalnya si kecil merasa mendapat ‘penguatan’ dari kata yang dilontarkan. Jika tidak mendapatkan penguatan, lambat laun kebiasaan berkata kasar akan hilang dengan sendirinya. Yang jadi masalah, bagaimana bila buah hati jadi sering berkata kasar atau mengumpat?

 Berikut ini beberapa tips untuk ibu cara menangani balita yang mulai sering mengumpat:

  1. Jauhkan anak dari aktivitasnya saat ia mengumpat. Misalnya, ketika sang anak sedang bermain sendiri atau bersama teman-temannya. Ibu perlu perhatian penuh pada si kecil tanpa memberi kesan menghakimi di depan publik bahwa sang anak melakukan kesalahan.
  2. Mintalah anak untuk mengulangi kata-kata (umpatan) yang diucapkannya dalam bentuk kalimat tanya, sehingga ibu bisa mendengar dengan jelas kata yang dimaksud. Bisa jadi, kata-kata itu bukan umpatan namun hanya terdengar seperti mengumpat. Jika ini terjadi, jangan lakukan apa-apa, apalagi berkata “Ooh, Mama kira ade bicara…,” karena hal itu bisa mengenalkan anak kepada kata umpatan tersebut.
  3. Jika anak benar-benar mengumpat atau berkata kasar, jangan memarahi dan berteriak kepadanya. Tidak perlu memberi hukuman karena kata umpatan itu merupakan kali pertama sang anak dan ibu harus mampu menanganinya dengan baik.
  4. Genggam tangan sang anak, tatap matanya, dan katakan dengan suara lembut bahwa kata yang diucapkannya bukan kata yang baik dan tidak pantas diucapkan di rumah. Ingatlah untuk selalu menggunakan nada bicara yang bersahabat tanpa menunjukkan kemarahan.
  5. Saat si kecil mengerti bahwa yang diucapkannya salah, beri anak pelukan dan katakan, itu bukan kesalahannya karena ia tidak tahu bahwa mengumpat adalah sesuatu yang buruk. Kemudian, biarkan anak kembali pada aktivitasnya.
  6. Jika umpatan ini adalah kali kedua, katakan kepada anak dengan nada suara agak tegas, bahwa ia tidak boleh menggunakan kata itu di dalam rumah. Katakan, jika si anak mengulanginya lagi maka ibu akan memberi hukuman karena kalimat itu tidak pantas diucapkan.
  7. Jika umpatan terjadi selama tiga kali, ibu harus melakukan aksi yang lebih keras dan disiplin karena anak sudah mengetahui buruknya kata mengumpat, namun tetap melakukannya. Jangan mengurungkan pemberian hukuman. Bersikap tegas dan hentikan umpatan tersebut sebelum menjadi kebiasaan buruk bagi anak.
  8. Orangtua harus mengetahui sejauh mana pemahaman anak terhadap kata-kata yang diucapkannya. Tanyakan pada anak apakah ia memahami arti kata tersebut, kemudian jelaskan arti kata yang diucapkannya dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Setelah itu ajak anak untuk berpikir dampak dari kata tersebut, misalnya dengan mengatakan “Menurut kakak, baik atau tidak berkata seperti itu? Kalau Kakak diledek seperti itu, bagaimana perasaan kakak?”.
  9. Ketika anak mengucapkan kata kasar, orangtua hendaknya bersikap tenang. Jangan menunjukkan kecemasan di hadapan anak. Pun jangan langsung memarahi dan melarang anak tanpa memberi penjelasan.
  10. Peka terhadap kondisi anak. Artinya, pahami apa yang menyebabkan anak mengucapkan kata-kata kasar, pada situasi seperti apa anak mengungkapkannya, apakah anak sedang merasa lelah/marah/kesal/lainnya. Jika anak mengucapkan kata kasar ketika ia sedang marah/kesal orangtua dapat mengajarkan cara yang lebih positif untuk mengungkapkan marahnya, misalnya dengan mengganti kata kasar tersebut dengan kata lain seperti “aku marah/aku tidak suka/aku kesal”. Jika anak mengungkapkan kata kasar ketika sedang lelah, tunjukkan empati dan alihkan anak untuk segera beristirahat. Diskusikan mengenai kata-kata kasar yang diucapkannya setelah anak berada dalam kondisi tenang.
  11. Kembangkan komunikasi yang positif dalam keseharian, dengan mengucapkan kata-kata positif dalam komunikasi sehari-hari dan mengajarkan anak mengungkapkan isi pikiran maupun perasaannya dengan kata positif.
  12. Hindari mengucapkan kata kasar/mengumpat/mengejek di hadapan anak.
  13. Kegiatan bercerita (membaca buku cerita/mendongeng) yang sarat akan pesan moral juga dapat dijadikan salah satu cara untuk mengurangi tingkah laku berkata kasar. Pilih cerita yang relevan dengan tingkah laku anak, tanpa perlu mengaitkan cerita tersebut dengan anak misalnya dengan mengatakan “Ini kan sama seperti kamu, suka bicara kasar” Hal tersebut justru akan membuat anak tidak bersemangat untuk mendengarkannya.
  14. Awasi kegiatan menonton TV/CD/sejenis.

Keluarga Sebagai ‘Pagar’

Keluarga diharapkan membetengi anak untuk tidak berkata kasar. Memang, ini tidak mudah, utamanya untuk menciptakan lingkungan yang steril bagi anak. Ada orangtua yang kemudian melarang anaknya untuk bersosialisasi di luar rumah karena khawatir akan mendapatkan pengaruh buruk dari lingkungan yang kurang kondusif. Satu sisi mungkin dapat mencegah anak untuk meniru kata-kata kasar, namun hanya sementara. sedangkan sisi lain, keterampilan sosial anak menjadi kurang terasah. Terlebih jika anak sedang menunjukkan negativistik yang menjadi salah satu ciri masa batita. Mereka akan melakukan hal-hal yang justru dilarang orangtuanya untuk menunjukkan ‘power’.

Semoga artikel diatas bermanfaat bagi anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *